JAKARTA - Rencana pengiriman pasukan perdamaian Indonesia ke Gaza kini semakin matang.
TNI menyiapkan satuan yang memiliki pengalaman bertugas di misi internasional. Hal ini diharapkan memperkuat peran Indonesia dalam menjaga perdamaian di wilayah konflik.
Pengalaman TNI di Misi Internasional
Wakil Panglima TNI, Jenderal Tandyo Budi Revita, menegaskan bahwa pasukan yang dikirim akan terdiri dari prajurit berpengalaman. Beberapa di antaranya pernah bertugas di UNIFIL atau Pasukan Sementara PBB di Lebanon. Pengalaman ini membuat mereka lebih siap menghadapi tantangan medan dan komunikasi di Gaza.
UNIFIL sendiri memiliki misi menjaga perdamaian sejak 1978. Tugas utamanya memantau penarikan Israel dari Lebanon Selatan dan membantu pemerintah Lebanon menegakkan otoritas. Dengan bekal ini, TNI diyakini mampu menjalankan misi perdamaian di Gaza dengan efektif.
Tandyo menjelaskan bahwa sejak 2008, TNI telah rutin mengirim pasukan ke UNIFIL. Banyak prajurit Indonesia yang telah memperoleh pengalaman berharga dari operasi ini. Mereka diharapkan menjadi inti pasukan perdamaian yang akan diterjunkan ke Gaza.
Persiapan Personel TNI
Kepala Biro Informasi Pertahanan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menambahkan, persiapan pasukan meliputi pelatihan bahasa. Prajurit mendapat pembekalan bahasa Inggris dan Arab untuk memudahkan komunikasi dengan masyarakat setempat. Selain bahasa, latihan simulasi lapangan juga menjadi bagian dari persiapan, meski detail teknis menyesuaikan keputusan resmi pemerintah.
Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto menegaskan, jumlah pasukan perdamaian akan diputuskan akhir Februari. Keputusan ini nantinya akan ditandatangani Presiden Prabowo Subianto. Panglima TNI telah menyiapkan prajurit yang siap diberangkatkan sewaktu-waktu.
TNI menekankan kesiapan seluruh aspek, mulai dari logistik hingga koordinasi. Tujuannya agar misi perdamaian dapat berjalan lancar. Penugasan ini menjadi wujud kontribusi Indonesia dalam menjaga stabilitas di wilayah konflik.
Catatan dan Dukungan DPR RI
Ketua Komisi I DPR, Utut Adianto, memberikan tanggapan terkait pengiriman pasukan Indonesia. DPR menilai rencana ini penting untuk misi penjaga perdamaian atau Board of Peace. Namun, jumlah pasukan yang dikirim sebaiknya tidak terlalu besar agar operasi lebih efektif.
Pengiriman pasukan Indonesia ke Gaza telah melalui pembahasan dengan berbagai pihak. Termasuk pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan mantan menteri luar negeri dan tokoh nasional. DPR menekankan pentingnya pengiriman yang sejalan dengan amanat UUD 1945 dan konsistensi dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina.
Utut menambahkan, pengiriman pasukan sejalan dengan prinsip dua negara yang hidup berdampingan damai. Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina sekaligus pengakuan keberadaan Israel secara adil. Langkah ini membutuhkan kompromi politik dan kepemimpinan global agar misi perdamaian berjalan sukses.
Harapan dan Tujuan Misi Perdamaian
Diharapkan, pasukan TNI yang berpengalaman dapat membantu pemulihan keamanan di Gaza. Pengalaman mereka di UNIFIL memungkinkan koordinasi efektif dengan masyarakat setempat. Tujuan utamanya adalah memastikan perdamaian dan stabilitas tetap terjaga di wilayah konflik.
Selain itu, misi ini menjadi wujud kontribusi aktif Indonesia dalam upaya global menjaga perdamaian. Pengiriman pasukan diharapkan memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat. Dengan persiapan matang, TNI siap menjalankan tugas internasional dengan profesional dan humanis.